Hari TBC Sedunia

Hari TBC Sedunia
Hari TBC Sedunia

Angka kesakitan dan kematian Tuberkulosis: Menurut laporan WHO, Indonesia berada dalam daftar 30 negara dengan beban Tuberkulosis tertinggi di dunia dan menempati peringkat tertinggi ketiga di dunia terkait angka kejadian Tuberkulosis. Insidensi tuberkulosis di Indonesia pada tahun 2018 adalah 316 per 100.000 penduduk.Sementara itu sekitar 845.000 penduduk menderita tuberkulosis pada tahun 2018.

Beban penyakit tuberkulosis yang tertinggi diperkirakan berada pada kelompok usia 25-34 tahun, dengan prevalensi 753 per 100.000 penduduk. Laki- laki memiliki tingkat prevalensi yang lebih tinggi yaitu 1.083 per 100.000 penduduk dibandingkan dengan prevalensi perempuan sebesar 461 per 100.000 penduduk. Ada beban Tuberkulosis yang lebih tinggi di perkotaan (846 per 100.000 populasi) dibandingkan dengan pedesaan (674 per 100.000 populasi) dan di antara lansia yang berusia di atas 65 tahun (1.582 per 100.000).

Berdasarkan laporan WHO tahun 2019, perkiraan angka kematian tuberkulosis di Indonesia adalah 35 per 100.000 penduduk artinya sekitar 93.000 orang meninggal karena Tuberkulosis pada tahun 2018. Jumlah kasus tuberkulosis meningkat tajam sejak tahun 2017 sebagai hasil dari upaya penyisiran kasus tuberkulosis di rumah sakit. Jumlah laporan kasus tuberkulosis pada tahun 2018 adalah 565.869 kasus, sementara itu, jumlah penemuan kasus tuberkulosis pada Global TB Report 2019 adalah sebesar 570.289 kasus

Kasus TB anak di dunia setiap tahunnya sebanyak 1 juta jiwa dari keseluruhan kasus TB sebanyak 10 juta jiwa pada tahun 2017, 52% diantaranya adalah anak <5 tahun dengan tingkat kematian 80%. Sekitar 96% di tahun yang sama kematian anak <5 tahun karena tidak mengakses pengobatan pencegahan tuberkulosis. Di Indonesia Sekitar 8,2% kejadian tuberkulosis terjadi pada anak di bawah usia 15 tahun atau sekitar 70.000 kasus per tahun.

TBC adalah tantangan untuk pembangunan Indonesia karena 75 persen pasien TBC adalah kelompok usia produktif, 15-54 tahun. Lebih dari 25 persen pasien TBC dan 50 persen pasien TBC resisten obat beresiko kehilangan pekerjaan mereka karena penyakit ini. Menurunnya produktivitas atau kehilangan pekerjaan akibat kecacatan, pengeluaran biaya medis dan biaya langsung non medis seperti biaya transportasi dan nutrisi berkontribusi pada beban ekonomi rumah tangga orang dengan TBC.

Mengapa TBC perlu dieliminasi?

1. TBC menular. Arus globalisasi transportasi dan migrasi penduduk antar negara membuat TBC menjadi ancaman serius

2. Pengobatan TBC tidak mudah dan murah

3. TBC yang tidak ditangani hingga tuntas menyebabkan resistensi obat

4. TBC menular dengan mudah, yakni melalui udara yang berpotensi menyebar di lingkungan keluarga, tempat kerja, sekolah, dan tempat umum lainnya.

5. Anak yang terbukti terinfeksi TB laten, Jika tidak diobati dengan benar akan menjadi kasus TB di masa dewasanya dan akan menjadi sumber penularan baru.

Pada pidato pelantikan yang lalu, Presiden menyampaikan bahwa kesempatan dan peluang besar, jika kita mampu membangun SDM yang unggul tentunya tanpa TBC yang dapat mempengaruhi pembangunan SDM lima tahun ke depan. Untuk mewujudkan generasi Indonesia yang unggul maka pemberantasan TBC menjadi prioritas pembangunan kesehatan selain menurunkan AKI/AKB, Stunting dan JKN.

Merujuk kepada arahan Presiden Jokowi pada kegiatan Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030 di Cimahi tanggal 29 Januari 2020 bahwa upaya penanggulangan TBC ini tidak hanya pada aspek penanganannya saja namun dimulai dari aspek pencegahan, beliau menyampaikan "Sekali lagi, mencegah lebih baik daripada mengobati. Lebih baik kita keluarkan waktu, tenaga, pikiran, dan anggaran ini untuk mencegah. Kita harus mempercayai ini, dengan tetap siaga dan waspada sebelum masuk ke pengobatan. Tapi kalau sudah terkena, ya tadi, urusannya adalah TOSS (Temukan, Obati Sampai Sembuh)," tandasnya.

Dengan mengambil tema peringatan HTBS tahun 2020 "Saatnya Anak Indonesia Bebas TBC, untuk Indonesia Unggul " diharapkan semua pihak bergerak bersama untuk melaksanakan upaya eliminasi TBC, mewujudkan lingkungan dan negara yang bebas TBC bagi seluruh anak-anak Indonesia. Diharapkan di 2030 tidak ada lagi anak Indonesia yang sakit dan tertular TBC.

Untuk mencapai mimpi tersebut, segala upaya dilakukan dan bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan tetapi tanggung jawab setiap individu yang ada, baik sehat maupun sakit demi mewujudkan generasi sehat dan unggul yang terbebas dari TBC sejak dini karena pada tahun 2045, Indonesia diprediksi menjadi negara dengan Pendapatan Domestik Bruto terbesar kelima di dunia. Pemerintah memiliki visi bersama yaitu "Indonesia Emas" dengan memanfaatkan bonus demografi yang membutuhkan sumber daya manusia unggul, berkualitas dan berdaya saing. Mencapai visi tersebut sangat dipengaruhi oleh upaya Indonesia memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) terkait kesehatan, termasuk eliminasi Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2030.

Anak yang kontak atau tinggal bersama dengan pasien TBC berisiko terinfeksi TBC. Berdasarkan Permenkes Rl No. 67 Tahun 2016 tentang Penanggulangan TB, bahwa anak di bawah lima tahun yang kontak dengan pasien TB perlu diberikan pengobatan pencegahan dengan memberikan Terapi Pencegahan TBC (TPT) agar tidak sakit TBC. Pemberian TPT ini terbukti aman bagi anak yang kontak dengan pasien TBC dan tidak dikhawatirkan menyebabkan resistensi. Pemberian pengobatan TPT ini sangat penting dalam eliminasi TBC di lndonesia.

Deteksi dini dan pencegahan penularan Tuberkulosis, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang permasalahan TBC. Tema ini dipilih menjadi tema tahun 2020 sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kewaspadaan TBC pada generasi muda khususnya pada kelompok anak yang rentan tertular TBC. Selain itu penyebarluasan informasi tentang TBC kepada masyarakat akan meningkatkan pengetahuan dan kepedulian untuk mencegah penularan TBC salah satunya melalui gerakan penemuan terduga TBC baik pada anak maupun pada orang dewasa, bila ada yang menderita gejala batuk dan segera memeriksakan diri untuk memastikan diri sendiri dan atau keluarganya mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan TBC yang tepat dan berkualitas.

Share Berita

Komentar Berita